Penyakit GIGI akibatkan penyakit Jantung dan Stroke?

Sumber: Kompas.com

Jangan mengabaikan kesehatan gigi dan mulut. Salah-salah, penyakit lain pun menyerang.

Masih ingat pelawak Leysus? Ya, ia meninggal Selasa (3/1) lalu karena stroke ringan dan kanker otak setelah giginya terinfeksi berat. Adakah hubungan antara sakit gigi dengan stroke? “Yang dialami Leysus disebut focal infection dental origin atau focal infection (FI),” jelas Drg. Bobby Gunadi dari Menteng Dental Clinic.

FI terjadi ketika migroorganisma yang berasal dari gigi dan mulut menyebabkan infeksi atau penyakit di bagian tubuh yang lain. “Infeksi di akar gigi maupun di jaringan penyangga gigi melibatkan lebih dari 350 bakteri dan mikroorganisma. Karena letak infeksinya sangat dekat dengan pembuluh darah, produk bakteri berupa toksin dapat menyebar ke seluruh tubuh,” lanjut Bobby.

Sejak ditemukannya mikroskop oleh Antoni van Leeuwenhoek pada abad ke-17, ditemukan lebih dari 6 milyar mikroba tinggal dan hidup di dalam mulut, yang berasal lebih dari 500 strain yang berbeda. Yang terbanyak adalah Candida albicans, Porphyromonas gingivalis, Streptococus mutans, Actinobacillus actinomycetemcomitans, Treponema denticola, dan streptococcus sanguis.

Gigi dan mulut, jelas Bobby, sebetulnya merupakan tempat yang sangat jorok.

“Bayangkan, ada lebih dari 350 mikroorganisme (bakteri) di dalam mulut. Bakteri ini sebetulnya tak akan “bermasalah” jika jumlahnya seimbang dan hidup harmonis. Tetapi bisa menjadi tidak harmonis jika muncul gangguan, seperti karies (gigi berlubang), penyakit penyangga gigi (periodontal), atau ada infeksi,” jelas Bobby.

Contohnya, karies (gigi berlubang). “Kalau kariesnya masih kecil dan belum begitu dalam, mungkin tidak akan mengganggu. Namun, begitu karies membesar dan makin dalam, bisa terjadi infeksi. Nah, infeksi inilah yang bisa memicu penyakit.”

GAYA HIDUP

Harus diakui, sebagian besar orang Indonesia masih belum begitu memperhatikan kesehatan gigi dan mulut.

“Mereka tidak pernah mengira bahwa penyakit lain yang mereka derita itu kemungkinan berasal dari kesehatan gigi dan mulut,” kata Bobby menyayangkan.

Contoh paling sering adalah sakit kepala. “Jarang, lo, yang mengaitkan sakit kepala dengan kesehatan gigi dan mulut,” ujar Bobby. “Orang juga belum memahami pentingnya dokter gigi. Gigi sakit hanya minum obat-obat painkiller, sementara penyebab utamanya tidak dihilangkan. Minum obat sembuh, tapi apakah menyembuhkan penyakitnya? Tidak. Ini hanya membuat penyakit makin terlokalisir,” kata Bobby.

Pada karies (gigi berlubang), misalnya, makanan yang menempel akan mengundang bakteri, yang kemudian terisap lewat pembuluh darah. Lama-lama, jika tak segera ditangani, karies gigi akan makin dalam dan gigi makin rusak. “Akhirnya, terkena saraf gigi (pulpa), akibatnya akan makin susah dibersihkan. Pulpa itu, kan, isinya pembuluh darah dan saraf. Nah, infeksi yang menjalar sampai ke ujung akar akan membuat bakteri masuk. Bakteri ini berjalan lewat pembuluh darah, dan bisa mampir ke mana saja.”

Tapi, “Tentu ini bukan satu-satunya penyebab. Masih ada penyebab-penyebab lain, misalnya daya tahan tubuh atau memang orang itu sudah punya faktor risiko,” tutur Bobby melanjutkan. “Orang dengan gaya hidup yang tidak sehat, bisa dipastikan tidak pernah ke dokter gigi. Jangankan yang gaya hidupnya asal-asalan, yang bener saja belum tentu rajin ke dokter gigi, kok. Memang butuh kemauan kuat untuk ke dokter gigi. Yang biasa terjadi, orang baru ke dokter gigi kalau sudah kesakitan,” lanjut Bobby. Contohnya perokok. “Orang yang merokok umumnya punya penyakit periodontal, karena kondisi mulutnya yang selalu panas.”

Gaya hidup sehat ternyata juga tak hanya menyangkut makanan sehat atau olahraga teratur, tapi juga rutin melakukan general check-up dan ke dokter gigi. “Jadi, konsep gaya hidup sehat sekarang harus lebih luas lagi. Ini yang belum dipahami masyarakat. Orang yang nge-gym tiap hari belum tentu sehat, kalau ia tidak pernah melakukan general check-up atau tidak pernah ke dokter gigi. Memang, risiko bisa ditekan, tapi tetap ada,” kata Bobby seraya menambahkan perbedaan pola sakit orang Indonesia. “Kalau belum ambruk, belum dianggap sakit.”

STROKE MENINGKAT

Bakteri yang berasal dari jaringan penyangga gigi dapat masuk ke pembuluh darah dan dapat berjalan ke seluruh organ vital dan menimbulkan infeksi.

“Akibatnya, ini akan memperbesar risiko penyakit jantung, stroke, meningkatkan kecenderungan wanita hamil melahirkan prematur dan bayi dengan berat badan kurang, serta meningkatkan ancaman bagi pasien-pasien yang menderita diabetes, penyakit saluran pernafasan, dan osteoporosis,” kata Bobby.

1. Jantung dan Stroke

Ada beberapa teori yang menyatakan hubungan antara penyakit di mulut dengan penyakit jantung. “Salah satu teori menyatakan, bakteri dari mulut (oral bacteria) ketika masuk ke dalam pembuluh darah akan menempel pada timbunan lemak di pembuluh arteri jantung dan akan menimbulkan bekuan,” jelas Bobby.

Karakteristik penyakit jantung koroner adalah menebalnya pembuluh darah koroner jantung yang disebabkan timbunan lemak. “Ini akan menghambat aliran darah ke jantung, sehingga nutirsi dan oksigen yang dibutuhkan jantung menjadi terhambat, yang dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung.”

Kemungkinan lainnya, pembengkakan yang terjadi akibat penyakit periodontal meningkatkan timbunan lemak, yang mengontribusi pembengkakan arteri. “Orang yang menderita penyakit periodontal, berisiko 2 kali lebih besar menderita penyakit jantung koroner dibandingkan yang tidak,” kata Bobby menjelaskan.

Penelitian tambahan juga menunjukkan adanya hubungan antara penyakit periodontal dan stroke. “Orang yang telah didiagnosa stroke umumnya lebih besar kemungkinan memiliki infeksi di mulutnya,” jelas Bobby.

2. Diabetes

Orang yang menderita diabetes cenderung menderita penyakit periodontal dibandingkan mereka yang sehat. “Kemungkinan, ini karena orang yang menderita diabetes lebih rentan terhadap infeksi. Faktanya, penderita diabetes lebih banyak mengeluh tentang adanya penyakit periodontal, seperti gusi mudah berdarah, bau mulut, dan sebagainya,” kata Bobby.

3. Penyakit saluran pernafasan

Infeksi di mulut dapat menyebabkan penyakit saluran pernafasan bila bakteri terhisap masuk ke saluran pernafasan. Bahkan, bakteri dapat berkembang biak dan menyebar sampai ke paru-paru. “Hasil penelitian menunjukkan, pasien dengan radang paru-paru kemungkinan besar juga menderita penyakit periodontal,” kata Bobby.

4. Bayi prematur atau bayi kurang berat

Sudah lama diketahui bahwa ibu hamil yang merokok, peminum alkohol, dan pemakai obat-obatan berisiko melahirkan bayi lahir prematur atau bayi lahir kurang berat. “Tapi, sekarang ditemukan lagi bahwa ibu hamil dengan penyakit periodontal berisiko 7 kali lebih besar melahirkan bayi yang lahir lebih awal atau bayi kecil. Penyakit periodontal akan meningkatkan derajat cairan biologis yang merangsang kelahiran,” ujar Bobby.

ENAM BULAN SEKALI

Sebetulnya, sebagian besar orang sudah tahu cara merawat kesehatan mulut dan gigi, tapi terkadang mengabaikan. “Yang jelas, ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali, sikat gigi dua kali sehari sesudah makan, memakai dental floss,” saran Bobby. “Juga, jadikan ke dokter gigi sebagai life style, jadi nggak akan terasa sebagai beban. Dan terakhir, perkuat awareness bahwa pola hidup sehat itu tak hanya makan teratur dan olahraga, tapi juga termasuk oral hygiene.”

TAK KALAH PENTING

Yang tak kalah penting adalah melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan jaringan penyangga gigi. “Penyakit jaringan penyangga gigi (periodontal diseases) hanya dapat terdeteksi bila dilakukan pemeriksaan cermat,” kata Bobby. Pemeriksaan jaringan penyangga gigi sangat penting bila:

a. Adanya gejala penyakit penyangga gigi, seperti gusi berdarah spontan atau gusi berdarah waktu menyikat gigi, pembengkakan gusi, gigi goyang, atau gusi terasa gatal.

b. Memiliki riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah, kencing manis, penyakit saluran pernafasan, dan osteoporosis.

c. Berpikir untuk hamil.

d. Anggota keluarga memiliki riwayat penyakit jaringan penyangga gigi. Menurut penelitian, penyakit periodontal dapat menular melalui air liur. “Ini berarti, anak-anak dan anggota keluarga lain berisiko tertular,” lanjut Bobby.

e. Sariawan yang tidak sembuh-sembuh dalam jangka waktu 2 minggu. (Tabloid Nova)

Comments are closed.

%d bloggers like this: