Terobosan Medis, Peneliti LIPI Produksi Hepo Tanpa Sel Mamalia

Jakarta, Selasa
sumber: Kompas, 30 mei 2006

Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil memproduksi Human Erythropoietin (Hepo) atau Glikoprotein Hormone tanpa menggunakan kultur sel Mamalia. Hepo berfungsi mengatur proses pembentukan sel darah merah dan sangat dibutuhkan oleh penderita penyakit ginjal.

“Ini adalah keberhasilan besar karena Korea Selatan dan Inggris masih gagal dalam penelitian serupa,” kata Kepala LIPI, Dr. Umar Anggara Jenie, di Jakarta, Senin (29/5). Terobosan tersebut berhasil dikembangkan Dr. Adi Santoso, ahli biologi molekul/biokimia dengan mensintesa Hepo menggunakan Pichia Pastoris (ragi).

Dalam penjelasannya, Santoso mengatakan, Hepo adalah suatu perantara farmasi yang sangat dibutuhkan dunia kesehatan dan memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi. Hepo merupakan obat yang diproduksi pada ginjal manusia dan berguna untuk mengatasi sejumlah penyakit yang berkaitan dengan darah seperti kelainan ginjal.

“Orang yang sakit ginjal pasti membutuhkan Hepo dan harus mengeluarkan uang banyak karena harganya mahal dan proses injeksi berkali-kali,” ujarnya. Sebagai contoh, manusia dengan berat badan 60 kilogram yang sedang menderita sakit ginjal memerlukan injeksi Hepo tiga kali dalam seminggu.

“Untuk sekali injeksi (suntik), biayanya dua hingga delapan juta rupiah. Dalam seminggu seorang pasien membutuhkan anggaran enam juta rupiah atau Rp24 juta per bulan,” katanya.

Menurut dia, selama ini produksi Hepo menggunakan kultur sel mamalia berupa sel CHO (Chinese Hamster Ovary) atau telur tupai Cina dan sel BHK (Baby Hamster Kidney) atau ginjal bayi tupai.

“Ada banyak keuntungan dalam penggunaan Pichia Pastoris itu, sebab proses glikosilasi pada Pichia Pastoris sangat mirip dengan yang terjadi pada sel mamalia, tingkat ekspresi protein rekombinan yang sangat tinggi,” kata Adi.

Selain itu, protein rekombinan yang dihasilkan juga dapat diekspresikan secara ekstraselular. Protein Rekombinan-Hepo yang diproduksi diharapkan memiliki aktivitas biologis dan stabilitas tinggi seperti pada Endogenous-Hepo.

“Kami sedang berupaya mensintesa Hepo lebih banyak lagi untuk tahap karakterisasi. Langkah ini yang akan diikuti dengan uji biologis,” tambah Adi.

Sumber: Ant
Penulis: Wah

Comments are closed.

%d bloggers like this: